MENU TUTUP

Elviriadi Nilai RTRW Rawan Kepentingan Politik, Jangan Pertaruhkan Nyawa Rakyat

Jumat, 05 Januari 2018 | 22:41:34 WIB
Elviriadi Nilai RTRW Rawan Kepentingan Politik, Jangan Pertaruhkan Nyawa Rakyat Pakar lingkungan Dr. Elviriadi

GENTAONLINE.COM-Belum disahkannya Ranperda Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Riau dinilai pakar lingkungan Elviriadi sebagai kado terbaik untuk provinsi. Hal itu mengingatkan kondisi ekosistem dan hutan di Riau tergolong berstatus darurat.

"Ada bencana asap traumatik, banjir, longsor, konflik agraria, sengketa pertanahan, pembuangan limbah beracun, kerusakan gambut, problem taman nasional, dan pencukuran cagar biosfer. Pokoknya kompleks betul," beber Elviriadi.

Dikatakan Pengurus Majelis Nasional KAHMI ini, semua itu terjadi karena Riau kaya sumber daya alam (SDA), sehingga menjadi rebutan pihak pihak berkepentingan.
"Ibarat kata pak UU Hamidy, Riau itu padang perburuan, kekayaannya dikeruk, masyarakat tempatan hidup dalam limbah, mata pencarian dari hutan dah punah ranah," imbuhnya.

Riau yang luas daratannya sekitar 8,9 juta Ha telah dibebani izin sebesar 6,8 juta Ha. Taman Nasional 1,6 juta ha, sisanya sekitar 1,4 untuk rakyat kecil berkongsi dengan areal perkantoran, fasilitas umum. Kawasan tangkapan air, hutan lindung, dan cadangan generasi anak cucu pun tak lagi jelas, yang terjadi malah penambahan alih fungsi hutan menjelang Pilkada, seperti tahun tahun sebelumnya dimana para bupati tersandung tata ruang.

"Nah, untuk memastikan RTRW Riau ini clear and clean, maka Kementerian LHK minta distudikan secara sistematis, menyeluruh, terhadap opini dan fakta yang ada di Riau," pinta dosen Fapertapet UIN Suska ini.

Ia juga menyayangkan sikap dingin Gubernur Andi Rahman terkait respon balik pemerintah pusat atas naskah Ranperda RTRW. Sepatutnya, Gubernur Andi Rahman progresif. Panggil OPD terkait minta data lapangan, panggil Bupati dan Kepala Bappeda, serta stakeholder.
"Pertanyakan, ini ada apa, kok pemerintah pusat serius banget" kata Elv sapaan akrabnya.

Ditanya adanya pandangan bahwa Riau dianaktirikan, serta provokasi LSM asing ke Menteri, menurut Elv pendapat itu terlalu berlebihan. Karena kompleksitas permasalahan dan kasus hukum kehutanan di Riau, harus hati-hati RTRW ini, jangan pertaruhkan nyawa rakyat.

Mengenai LSM asing, Elv menilai sejak dulu LSM itu stakeholder vital bagi pemerintah lantaran bekerja dengan fokus, spesifik, mau turun ke masyarakat, menginvestigasi, mengumpulkan data, dan memperkuat institusi grassroot.
"Nah, karena RTRW ini berkepentingan dengan kekayaan sumberdaya alam, publik berharap jangan dijadikan konflik kepentingan 'amunisi' pertarungan kepala daerah di tahun politik 2018," katanya.

"Saya kira tak usah terburu-buru. Jiwa orang Melayu itu berlapang dada, berfikir jernih, duduk seorang terasa sempit, duduk ramai berlapang lapang," tutup anak jati Meranti yang bertekad menggunduli kepala demi solidaritas nasib hutan Riau ini. (rls)

Berita Terkait +
TULIS KOMENTAR +
TERPOPULER +
1

Laporan Disebut Mandek 1 Tahun 3 Bulan, Dua Aktivis Adukan Penanganan Kasus Polda Sumbar ke Propam dan Bareskrim Polri

2

Marwas Menang Telak di Mubes LAK Kampar, dari Kepala Desa, Sengketa Lahan hingga Jejak KSO Agrinas

3

Edi Lelek: Menjaga Suara Publik di Tengah Intimidasi dan Ancaman Kriminalisasi

4

Nama Anggota DPRD Meranti Muncul dalam Reservasi Hotel, AMKK Minta Badan Kehormatan Turun Tangan

5

1 Tahun Mandeh, Dewan Redaksi GentaOnline Nasional Desak Mabes Polri Usut Dugaan Perusakan Hutan Mandeh

6

SETAHUN LAPORAN MENGENDAP, WALI NAGARI MANDEH DIDESAK SEGERA DIPROSES HUKUM Dugaan Perusakan Mangrove Tak Boleh Berhenti di Meja Pengaduan, Propam Mabes Polri Diminta Turun Tangan

7

BRIGJEN POL HENGKI HARYADI PIMPIN POLDA PAPUA BARAT DAYA

8

Ungkap Dugaan Penyelewengan BBM Subsidi di SPBU 13.275.513 Sijunjung, Empat Wartawan Dikeroyok dan Mobil Dirusak

9

Pangdam I/BB Pimpin Sidang Pantukhir, 678 Caba PK Ikuti Seleksi Pusat