MENU TUTUP

Pengamat Nilai Pertemuan AHY-Puan Positif

Sabtu, 08 Agustus 2020 | 10:12:18 WIB
Pengamat Nilai Pertemuan AHY-Puan Positif foto internet

GENTAONLINE.COM -- Pengamat politik Universitas Paramadina Jakarta Ahmad Khoirul Umam menilai positif pertemuan Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dengan Ketua DPR yang juga Ketua DPP PDIP Puan Maharani. Ia juga mengingatkan kedua pihak untuk tidak terpancing pihak-pihak yang tidak suka jika PDI Perjuangan dan Partai Demokrat dekat usai pertemuan tersebut.

"Saat situasi krisis, para pemimpin politik harus mengedepankan persatuan dan kebersamaan. Ada extra-ordinary situation. Komunikasi politik AHY dan Puan diharapkan akan mempercepat langkah-langkah taktis maupun strategi penanganan pandemi dan penyelamatan ekonomi negara," katanya,di Jakarta, Jumat (7/8).

Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono dan Ketua DPR Puan Maharani melakukan pertemuan di Gedung DPR RI Senayan, Kamis (6/8) lalu. Setelah itu, muncul gejala adanya pihak-pihak yang tidak suka PDIP dan Partai Demokrat membangun komunikasi politik yang konstruktif. 

Sejumlah perdebatan yang melibatkan masing-masing kelompok pendukung seketika bermunculan. Utamanya, terkait narasi membanding-bandingkan prestasi ekonomi antara era Presiden SBY dan Presiden Jokowi sebagai respons atas jatuhnya pertumbuhan ekonomi nasional hingga -5,32 persen atau terendah sejak krisis moneter 1997/1998.

Umam yang juga managing director Paramadina Public Policy Institute (PPPI) menilai pertemuan Puan dan AHY merupakan langkah positif yang harus diapresiasi di tengah krisis pandemi ini. Menurut dia, dukungan politik AHY sebagai pimpinan partai penyeimbang ini sangat penting untuk percepatan langkah-langkah pemerintah.

Kekuatan politik AHY, kata dia, dapat mendorong percepatan itu lewat pengawasan ekstra ketat terhadap pembelanjaan alokasi anggaran penanganan pandemi yang mencapai Rp900-an triliun.

Apalagi, Presiden Joko Widodo sempat marah karena rasio tes virus yang lambat, langkah "contact tracing" yang kurang optimal, hingga pendistribusian bantuan sosial dan stimulus penyelamatan ekonomi yang sangat terlambat. "Jika di kuartal I dan II semua langkah fundamental itu terlambat dilakukan sampai berdampak pada anjloknya ekonomi negara, maka pembelanjaan Rp900-an triliun dalam 5 bulan terakhir tahun 2020 ini akan membuka ruang penyalahgunaan hingga praktik mega korupsi yang masif dan berskala besar," kata dosen Ilmu Politik dan International Studies, Universitas Paramadina tersebut.

Karena itu, lanjut Umam, komunikasi politik itu hendaknya tidak dirusak oleh narasi yang membentur-benturkan dan mengeksploitasi dendam, serta kebencian politik masa lalu. "Jangan terpancing mereka yang lagi-lagi mengeksploitasi dendam dan kebencian. Di tengah krisis, semua pihak harus menjaga kondusifitas politik nasional. Jangan sampai pertumbuhan ekonomi di kuartal II kembali negatif, hingga terjadi resesi atau bahkan depresi di kuartal ke-IV," pungkas peraih Doktor Ilmu Politik dari Universitas Queensland, Australia tersebut.(rep)

Berita Terkait +
TULIS KOMENTAR +
TERPOPULER +
1

Dishub Kampar Tegaskan Pungutan Parkir di Disdukcapil dan UPT Samsat Tidak Resmi, Minta Dihentikan

2

Kadis PUTR Rohil Dilaporkan ke Kejati dan Polda Riau Terkait Dua Proyek Jalan Rp34,6 Miliar

3

KOPARI Desak Polda Riau Usut Dugaan Jual Beli Lahan di Kawasan Hutan

4

Diduga Pabrik PT LAS "Minyak Kita" Berdiri Tanpa Plang, Muncul Dugaan Kebocoran Pajak dan Pencemaran Limbah

5

Pimred Media Mengecam Pengacara Arogan Pelanggaran kode Etik Penghinaan Martabat Profesi Wartawan

6

Hina Profesi Wartawan, Hotman Paris di Kejar Organisasi Wartawan, PWI dan PWMOI Bersuara

7

Diduga Diteror dalam Sengketa Tanah, Warga Tangkerang Barat Pertanyakan Pendampingan RW 08 dan Minta Polisi Menyelidiki Dugaan Mafia Tanah

8

Sebarkan Fitnah Keji terhadap Ketua KNPI Riau yang Dikriminalisasi Polresta Pekanbaru, Ini Sanggahan Istri Larshen Yunus*

9

Pemerintah Kecamatan Tambang Mengaku Belum Tahu Aktivitas Galian C Ilegal, Ulul Azmi Jadi Sorotan