MENU TUTUP

FSPMI Minta DPRD Riau Teruskan Tuntutan Pembatalan UU Cipta Kerja dan Persoalan UMP

Selasa, 08 Februari 2022 | 08:41:17 WIB
FSPMI Minta DPRD Riau Teruskan Tuntutan Pembatalan UU Cipta Kerja dan Persoalan UMP

GENTAONLINE.COM - Sejumlah massa dari Forum Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI) Riau melakukan aksi di DPRD Riau, Senin (7/2/2022). Dalam aksinya massa menolak undang Undang nomor 11 tahun 2020 tentang Cipta Kerja dan kenaikan Upah Minimum Provinsi (UMP) Riau.

Perwakilan massa diperbolehkan masuk dan beraudiensi di Komisi I dan disambut oleh Wakil Ketua DPRD Riau Hardianto dan anggota DPRD Riau Makarius Anwar.

Ketua DPW FSPMI, Satria mengatakan ada dua tuntutan aksi di DPRD Riau. Pertama menolak UU nomor 11 tahun 2020 tentang Cipta Kerja dan kenaikan upah minimum.

Kemudian, menuntut dibatalkannya UU Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja melalui mekanisme legislatif review dan kenaikan upah minimum 2022 yang disahkan gubernur.

"UU no 11 tahun 2020 tentang Cipta Kerja dan kenaikan upah minimum sangat tidak berpihak kepada buruh, mulai dari pemberian pesangon semakin menurun kualitasnya dan tanpa kepastian hukum yang jelas. Ini akan semakin mempermudah perusahaan untuk melakukan PHK karena uang pesangonnya lebih kecil. Aturan baru ini malah tidak implementatif, kontraptoduktif, dan tidak pro-rakyat,” kata Satria.

Selain itu, kenaikan UMP yang ditetapkan Gubernur Riau juga jauh yang diharapkan tidak sampai 1 persen.

"Di DKI bisa sampai 1 persen sementara di Riau kenaikan hanya 0,94 persen. Padahal Riau ini di atas minyak dibawah minyak. Ini kan ironis," cakap Satria lagi.

Sementara itu Wakil Ketua DPRD Riau Hardianto mengatakan akan menyampaikan tuntutan FSPMI kepada pemerintah pusat melalui DPR RI. Karena terkait penolakan UU Cipta Kerja ini adalah kebijakan pusat.

"UU Cipta Kerja ini adalah produk pemerintah pusat. Untuk itu kami di DPRD Riau hanya bisa melanjutkan apa yang menjadi tuntutan para buruh," kata Hardianfo.

Namun terkait kenaikan UMP ini, Hardianto mengaku bahwa DPRD tidak dilibatkan secara aktif dalam penyusunan besaran UMP ini.

"Kita tidak pernah dilibatkan secara aktif besarnya. Padahal kita persentasi masyarakat Riau di DPRD. Jadi bingung juga kita setiap pengaduan ke sini. Tapi proses inti tidak dilibatkan," cakap Hardianto.

Tapi meskipun demikian, apa yang menjadi tuntutan buruh sebagai wakil rakyat pihaknya akan berusaha bagaimana aspirasi masyarakat ini bisa disampaikan pada pemerintah pusat dan daerah.

"Memang persoalan tiap tahun adalah kenaikan upah, dan setiap tahun pula buruh demo. Menurut saya yang harus dilakukan yakni melakukan pengkajian secara komprehensif berapa kebutuhan hidup layak di Riau. Dan jika ini sudah dikaji tidak ada lagi yang demo," tukasnya.(ckc)

Berita Terkait +
TULIS KOMENTAR +
TERPOPULER +
1

Laporan Disebut Mandek 1 Tahun 3 Bulan, Dua Aktivis Adukan Penanganan Kasus Polda Sumbar ke Propam dan Bareskrim Polri

2

Marwas Menang Telak di Mubes LAK Kampar, dari Kepala Desa, Sengketa Lahan hingga Jejak KSO Agrinas

3

Edi Lelek: Menjaga Suara Publik di Tengah Intimidasi dan Ancaman Kriminalisasi

4

Nama Anggota DPRD Meranti Muncul dalam Reservasi Hotel, AMKK Minta Badan Kehormatan Turun Tangan

5

1 Tahun Mandeh, Dewan Redaksi GentaOnline Nasional Desak Mabes Polri Usut Dugaan Perusakan Hutan Mandeh

6

SETAHUN LAPORAN MENGENDAP, WALI NAGARI MANDEH DIDESAK SEGERA DIPROSES HUKUM Dugaan Perusakan Mangrove Tak Boleh Berhenti di Meja Pengaduan, Propam Mabes Polri Diminta Turun Tangan

7

BRIGJEN POL HENGKI HARYADI PIMPIN POLDA PAPUA BARAT DAYA

8

Ungkap Dugaan Penyelewengan BBM Subsidi di SPBU 13.275.513 Sijunjung, Empat Wartawan Dikeroyok dan Mobil Dirusak

9

Pangdam I/BB Pimpin Sidang Pantukhir, 678 Caba PK Ikuti Seleksi Pusat