Dugaan Keseringan Nonton Bokep, Guru SMA Negeri 18 Pekanbaru Terobsesi Merekam Video Perbuatan Asusila kepada Siswanya

Sabtu, 14 Maret 2026 | 02:49:22 WIB
Dugaan Keseringan Nonton Bokep, Guru SMA Negeri 18 Pekanbaru Terobsesi Merekam Video Perbuatan Asusila kepada Siswanyai Foto:

Siswi SMAN 18 Pekanbaru Laporkan Guru atas Dugaan Pelecehan Seksual, Aktivis Minta Kepala Sekolah Dicopot

Gentaonline.com – Pekanbaru, Seorang siswi kelas II di SMAN 18 Pekanbaru berinisial PI (17) melaporkan gurunya sendiri berinisial AS atas dugaan pelecehan seksual. Kasus ini kini ditangani aparat kepolisian setelah dilaporkan ke Polda Riau.

Peristiwa tersebut diduga terjadi saat kegiatan sekolah di wilayah Duri, Kabupaten Bengkalis. Saat itu korban disebut tengah beristirahat di dalam mobil karena kelelahan. Namun oknum guru Bahasa Indonesia tersebut diduga masuk ke dalam mobil dan melakukan tindakan tidak pantas terhadap korban.

Yang lebih mengejutkan, dugaan aksi tersebut disebut sempat direkam oleh yang bersangkutan menggunakan ponsel pribadinya.

Kasus ini mencuat setelah korban meminta pendampingan dari Cipta Gerakan Masyarakat (Germas) Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Riau. Pihak pendamping bahkan mengaku telah melihat rekaman yang diduga berkaitan dengan peristiwa tersebut.

“Sangat miris melihat tenaga pendidik seperti itu. Kami sudah melihat bukti videonya dan ini sangat memprihatinkan. Kasus ini telah resmi dilaporkan ke Polda Riau,” ujar Wakil Ketua Umum Cipta Germas PPA Riau, Rika Parlina, Rabu (4/3/2026).

Menurut Rika, sikap pihak sekolah juga menjadi sorotan setelah pihak pendamping mendatangi SMAN 18 Pekanbaru untuk menyampaikan persoalan tersebut. Saat itu mereka justru mendengar pernyataan yang dinilai tidak sensitif terhadap kondisi korban.

Pihak sekolah disebut menyatakan tindakan oknum guru tersebut hanya sebagai sebuah “kekhilafan”.

“Kepala sekolah menyebut ini hanya khilaf dan guru tersebut merasa bersalah. Kami sangat menyayangkan hal itu, karena yang seharusnya menjadi perhatian utama adalah kondisi psikologis korban yang harus menanggung trauma,” tegas Rika.

Keberadaan video tersebut terungkap secara tidak sengaja. Rekaman itu disebut ditemukan oleh seorang siswa yang meminjam ponsel milik AS untuk keperluan dokumentasi kegiatan sekolah.

Alih-alih menemukan dokumentasi kegiatan, siswa tersebut justru melihat video yang diduga berisi rekaman tindakan tidak pantas tersebut.

Saat awak media mendatangi SMAN 18 Pekanbaru untuk meminta klarifikasi terkait dugaan kasus tersebut, Kepala Sekolah Wan Roswita sempat ditemui. Namun yang bersangkutan tidak memberikan tanggapan atas pertanyaan wartawan.

Kepada awak media, Wan Roswita menyampaikan bahwa dirinya sedang membaca Surat Al Kahfi sehingga tidak bersedia memberikan penjelasan lebih lanjut mengenai dugaan kasus yang tengah menjadi sorotan tersebut.

Sementara itu, Sekretaris Forum Anti Maksiat Riau juga angkat bicara dan merekomendasikan agar Kepala SMAN 18 Pekanbaru dicopot dari jabatannya.

Menurutnya, pernyataan yang menyebut tindakan oknum guru hanya sebagai “khilaf” dinilai sebagai bentuk pembelaan terhadap dugaan perbuatan asusila yang terjadi di lingkungan sekolah.

“Pernyataan itu tidak tepat. Ketika menyangkut keselamatan siswa, pimpinan sekolah seharusnya menunjukkan empati kepada korban dan meminta maaf kepada publik, bukan menggiring opini bahwa itu hanya khilaf,” ujarnya.

Ia menilai, sebagai pimpinan lembaga pendidikan, kepala sekolah memiliki tanggung jawab moral untuk memastikan lingkungan sekolah aman bagi peserta didik.

Kasus ini kini menjadi perhatian publik karena menyangkut keselamatan siswa di lingkungan pendidikan. Dugaan peristiwa tersebut juga memunculkan pertanyaan mengenai sejauh mana institusi pendidikan mampu memastikan ruang belajar benar-benar aman bagi para siswa.

Sebab ketika dugaan pelanggaran serius muncul di lingkungan sekolah, yang dipertaruhkan bukan hanya nama baik lembaga, tetapi juga rasa aman setiap anak yang datang ke sekolah untuk belajar. (Lelek)

Tulis Komentar