MENU TUTUP

DPR dan Ekonom Kritik Penghentian BLT Subsidi Upah

Rabu, 03 Februari 2021 | 09:42:37 WIB
DPR dan Ekonom Kritik Penghentian BLT Subsidi Upah ilustrasi internet

GENTAONLINE.COM -- Anggota Komisi IX DPR RI dari Fraksi Partai Amanat Nasional (PAN) Saleh Partaonan Daulay mengkritik penghentian bantuan subsidi upah (BSU) atau BLT bagi pekerja bergaji di bawah Rp5 juta di tahun ini. Menurutnya, kebijakan tersebut masih dibutuhkan untuk menggenjot daya beli pekerja terutama yang penghasilan hariannya terdampak pandemi covid-19.

 

"Sangat disayangkan jika ini dihentikan. Apalagi kita lihat pemulihan ekonomi belum berlangsung seperti yang diharapkan," ucapnya,  Selasa (2/2). Saleh menilai seharusnya bantuan subsidi upah tersebut diperluas di tahun ini. Pasalnya, masih banyak pekerja yang luput dari sasaran program ini di tahun lalu, terutama untuk pekerja informal.

 

"Banyak pekerja di tahun lalu kan belum mendapatkan bantuan tersebut. Karena informal yang tidak terdaftar di BPJS Ketenagakerjaan juga kan banyak, harusnya mereka jadi sasaran di tahun ini," imbuhnya. Kalau pun masalahnya adalah ketidakmampuan APBN, kata dia, seharusnya pemerintah tidak menghentikan bantuan melainkan memperkecil alokasi anggaran.

 

Di samping itu, sasaran penerima juga bisa diubah dari yang sebelumnya untuk pegawai bergaji di bawah Rp5 juta menjadi hanya pegawai bergaji upah minimum provinsi (UMP). "Di daerah, kan banyak yang gajinya masih UMP. Kemudian UMP tersebut juga kecil tidak seperti Jakarta. Ini penting untuk bantu konsumsi mereka tumbuh," tegasnya.

 

Sementara itu, ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Rendy Yusuf Manilet menilai penghentian bantuan subsidi upah kontradiktif dengan upaya pemerintah mempercepat pemulihan ekonomi di tahun ini. Pasalnya, menurut Rendy, BLT untuk pekerja di bawah Rp5 juta tersebut terbukti memberikan dampak positif bagi rumah tangga yang jadi penopang utama pertumbuhan ekonomi.

 

"Sebenarnya ini kan instrumen yang ditawarkan pemerintah. Tahun lalu cukup berhasil, setidaknya kuartal kedua dan ketiga. Kalau kita lihat sekarang dihentikan, tentu harapan bisa pulih menjadi lebih sedikit dari tahun lalu karena bantuan yang serapannya bagus justru dihilangkan," tuturnya.

 

Pencabutan bantuan subsidi upah, lanjut Rendy, harusnya bisa jadi andalan pemerintah untuk mengakselerasi konsumsi yang saat ini masih belum pulih. Terlebih, pandemi covid-19 yang jadi penyebab mandeknya aktivitas ekonomi belum bisa dibereskan oleh pemerintah hingga saat ini.

 

"Agak mengejutkan juga pemerintah memutuskan untuk tidak melanjutkan bantuan ini. Padahal kan kita tahu ada PPKM (Penerapan Pembatasan Kegiatan Masyarakat) dan kasus aktif meningkat. PPKM sendiri seperti kata Presiden belum efektif," pungkasnya.(cnn)

Berita Terkait +
TULIS KOMENTAR +
TERPOPULER +
1

Terkuak dari 'Keceplosan' Staf Humas, Dugaan Praktik 'Wartel' HP di Dalam Lapas Kelas IIA Pekanbaru Menguat, Indikasi Napi Bebas Berkomunikasi Jadi Sorotan

2

Terkuak! Napi Kendalikan Sabu dari Lapas, Dugaan '86' Seret Oknum Polisi di Pekanbaru

3

GRANAT Riau Soroti Dugaan Aliran Dana Rp200 Juta dalam Kasus Narkotika, Minta Kapolri Perintahkan Penelusuran

4

Dugaan Lemahnya Manajemen SDM Koordinator LPS Tobekgodang, Warga Keluhkan Sampah Menumpuk

5

Kementerian Pemasyarakatan Akan Copot Pegawai Lapas yang Diduga Terlibat Maraknya Peredaran Narkotika di Lapas Kelas II A Pekanbaru

6

Dugaan Gudang BBM Ilegal Marak di Dumai, Sorotan Tertuju pada Lemahnya Pengawasan Aparat

7

Oknum Kepala SDN 023 Sungai Geniot Dumai Diduga Lakukan Pungutan Tak Wajar, Orang Tua Siswa Mengeluh

8

Polda Riau Sita Aset Miliaran Milik Bandar Sabu yang Dikendalikan Napi, Kalapas Kelas II Pekanbaru Diminta Dicopot

9

Polda Riau Ungkap Jaringan Opium Internasional, Nilai Transaksi Ditaksir Rp68 Miliar