Jacob Ereste : Korupsilah Yang Banyak Biar Bisa Enak Menjalani Hukuman Hingga Saat Bebas Bisa Menikmati Sisa Duit Yang Masih Tersisa

Sabtu, 04 Juli 2026 | 20:00:00 WIB
Jacob Ereste : Korupsilah Yang Banyak Biar Bisa Enak Menjalani Hukuman Hingga Saat Bebas Bisa Menikmati Sisa Duit Yang Masih Tersisai Foto:

GentaOnline.Com - Nasional. Saling sandra dan saling memeras karena berawal dari saling membiarkan untuk mencari aman, bahkan tidak sedikit diantaranya yang menunggu bagian. Begitulah budaya korup yang telah merasuk ke semua sektor dan bidang pekerjaan. Tak hanya dalam habitat hukum, politik dan perundang-undangan hingga untuk urusan agama pun sudah dijadikan obyek bancaan. Tak ada dosa yang mereka kenal, sebab dana bantuan untuk rakyat miskin -- bahkan dana bantuan bencana alam juga sudah tidak lagi dianggap haram. Apalagi hanya sekedar proyek pemerintah yang diijinkan, akibatnya proyek belum berjalan pun dananya sudah nyaris habis dibantai entah oleh siapa saja akibatnya menjadi sangat sulut diusut, karena semua pihak ikut menikmati duit yang didulang dari tetesan keringat rakyat.

Karena itu juga birahi korupsi telah menjadi perilaku yang genit dan latah. Jika tidak korupsi saat peluang dan kesempatan ada, bisa dicibir semacam manusia pandir se dunia. Bahkan reputasi yang dianggap terbaik dan sukses, ketika baru duduk sesaat di tempat yang basah itu, takarannya adalah semewah apa kendaraan yang sudah bisa dimiliki. Dan semegah apa rumah yang bisa dibangun. Semua itu akan menjadi takaran kerabat dan sahabat termasuk keluarga -- terutama saat pulang ke kampung halaman -- seperti apa kemewahan hidup yang bisa dipamerkan serta berapa nilai buah tangan yang dapat dibagikan ke semua sanak famili serta saudara dan kawan-kawan yang masih bertahan dalam kemiskinan di kampung halaman.

Begitulah, nilai materi telah menjadi standar ukuran sukses dalam kondisi masyarakat yang terlanjur basah kuyup dalam budaya materialistik yang lahir dan dibiakkan oleh kapitalisme global akibat dari keoknya sosialisme dalam pertarungan hingga merontokkan juga benteng agama yang sangat terkesan tidak lagi berdaya.

Yang gawat, justru topeng dan jubah agama menjadi semacam helm pelindung yang menjamin pengendara yang ugal-ugalan itu tidak melanggar rambu lalu lintas yang sudah menjadi kesepakatan bersama agar tidak dilabrak. Dan budaya korupsi di Indonesia seperti telah menjadi  pekerjaan baru, baik bagi pelakunya sendiri maupun bagi petugas yang harus melakukan pengawasan dan pencegahan serta melakukan upaya pemberantasan yang semakin meningkat dan cenderung massif sampai gaya dan model sogok menyogok dari cara menilep dana proyek pemerintah semakin canggih dan piawai dengan nilai yang tidak alang kepalang gedenya. 

Sementara dibilik lain, desakan publik untuk merampas aset para koruptor seperti sedang dilakukan tawar menawar dalam pembahasannya yang sudah dibuat ribut sejak beberapa tahun silam hingga sampai sekarang belum juga jelas juntrungannya. Sehingga cukup kuat diduga dalam pembahasan RUU Perampasan Asset terhadap mereka yang melakukan korupsi tidak cuma sekedar patut diduga, tapi juga sangat mungkin diantara pembahas dari RUU tersebut juga dalam posisi yang juga sudah tersandera. 

Setidaknya, efek jera bagi pelaku korupsi seperti tidak menimbulkan nyali yang ciut. Sebab, jika sampai tertangkap tangan, toh mulai dari awal proses hukum hingga saat menjalani kurungan badan di lembaga pemasyarakatan semua bisa diatur sesuai dengan keinginan pesanan. "Yang penting, kalau maling duit jangan tanggung nilainya. Supaya ada sisanya yang bisa dibagi-bagi saat berada di dalam penjara", kata seorang mantan koruptor yang kini sudah kembali menikmati alam bebas dan menikmati sisa duit korupsi itu sampai sekarang.

Banten, 4 Juli 2026

Tulis Komentar