Delapan Bulan Bertahan di Tengah Puing, Warga Buket Linteung Masih Menanti Kepastian Bantuan, DTH Baru Cair untuk 17 KK
Foto:
GentaOnline.Com - Aceh Utara. Delapan bulan berlalu sejak banjir bandang meluluhlantakkan Desa Buket Linteung, Kecamatan Langkahan, Kabupaten Aceh Utara. Namun, bagi ratusan warga, bencana itu belum benar-benar berakhir. Di tengah puing-puing rumah yang masih membentang di sepanjang desa, mereka masih menunggu realisasi bantuan yang dijanjikan pemerintah.
Berdasarkan data pendataan resmi yang tercantum dalam dokumen Langkahan_Buket Linteung yang dipegang tim redaksi, tercatat lebih dari 420 rumah mengalami dampak bencana. Sekitar 90 persen kawasan permukiman terdampak parah, dengan rincian klasifikasi kerusakan sebagai berikut:
- RB (Rusak Berat): Kerusakan ? 71 persen
- RS (Rusak Sedang): Kerusakan 31 – 70 persen
- RR (Rusak Ringan): Kerusakan 20 – 30 persen
- TMK (Tidak Masuk Kriteria): Kerusakan < 20 persen
Sebagian besar bangunan masuk kategori Rusak Berat, bahkan banyak yang hancur total hingga tersapu arus air. Sepanjang jalan desa, hampir tidak ada lagi rumah yang berdiri kokoh. Sebagian hanya menyisakan pondasi dan tiang penyangga, sementara lainnya hilang tanpa bekas.
Salah seorang warga berinisial M mengatakan, kondisi yang terlihat saat ini hanyalah sebagian kecil dari dampak bencana yang mereka alami.
“Kalau datang dan melihat langsung ke sini, yang terlihat bukan hanya puing-puing rumah, tetapi juga luka batin masyarakat yang belum sembuh. Banjir ini bukan hanya menghancurkan rumah kami, tetapi juga mata pencaharian dan harapan banyak keluarga yang hingga hari ini masih menunggu kepastian bantuan,” ujarnya.
Keluhan serupa disampaikan warga lainnya berinisial S. Menurutnya, hingga kini masyarakat masih mempertanyakan lambannya penyaluran bantuan, padahal kerusakan yang mereka alami tergolong paling parah.

“Demi Allah, hampir 90 persen kampung kami hancur. Rumah dan tempat usaha hilang, nyaris tidak ada yang tersisa. Kami sangat membutuhkan bantuan untuk bertahan hidup. Kenapa daerah yang dampaknya tidak separah kami sudah menerima bantuan, sedangkan kami yang kehilangan hampir segalanya belum mendapatkan apa-apa?” tuturnya.
Sementara itu, Keuchik Desa Buket Linteung menjelaskan bahwa berdasarkan data awal terdapat 67 kepala keluarga yang berhak menerima Dana Tunggu Hunian (DTH). Namun hingga kini, baru 17 kepala keluarga yang menerima pencairan, sedangkan 50 kepala keluarga lainnya belum menerima sama sekali.
“Berdasarkan data awal terdapat 67 kepala keluarga yang berhak menerima Dana Tunggu Hunian. Sampai saat ini baru 17 kepala keluarga yang menerima pencairan. Sebanyak 50 kepala keluarga lainnya belum menerima sama sekali. Belum ada informasi yang jelas, kami juga belum mendapat keterangan apapun dari pihak Dinas Sosial maupun BNPB mengenai kapan bantuan tersebut akan diproses lebih lanjut,” jelasnya.
Belum cairnya Dana Tunggu Hunian membuat banyak keluarga kesulitan memperoleh tempat tinggal sementara. Dana tersebut seharusnya digunakan untuk menyewa rumah sambil menunggu pembangunan hunian tetap.
“Kami tidak punya biaya untuk menyewa rumah. Hunian sementara juga sudah tidak ada. Kalau DTH belum cair, kami harus tinggal di mana?” ungkap M.
Karena tidak memiliki pilihan lain, sebagian warga akhirnya memanfaatkan sisa-sisa material bangunan untuk mendirikan pondok sederhana sebagai tempat berlindung.
“Kami hanya dijanjikan akan mendapat hunian tetap, tetapi Dana Tunggu Hunian belum juga cair. Tidak ada uang untuk menyewa rumah, jadi kami membangun pondok seadanya dari sisa material yang masih bisa dipakai. Itulah tempat kami berteduh sambil menunggu kepastian dari pemerintah,” katanya.
Saat ini, harapan masyarakat tertuju pada pembangunan sekitar 180 unit hunian tetap yang didukung oleh lembaga kemanusiaan. Namun jumlah tersebut belum mampu mengakomodasi seluruh korban, sehingga ratusan kepala keluarga lainnya masih menunggu kepastian.
Hingga berita ini disusun, Kabar Tujuh telah berupaya mengonfirmasi Bupati Aceh Utara melalui pesan WhatsApp pada Kamis, 2 Juli 2026 pukul 17.37 WIB, namun belum memperoleh tanggapan.
Konfirmasi juga telah disampaikan kepada pihak BNPB pada hari yang sama sekitar pukul 18.10 WIB. Dalam komunikasi tersebut, pihak BNPB belum memberikan tanggapan terkait penanganan warga terdampak banjir di Desa Buket Linteung dan hanya menanyakan asal nomor telepon yang digunakan. Pihak media telah menjelaskan bahwa nomor tersebut diperoleh melalui jalur resmi.
Warga berharap pemerintah segera mempercepat penyaluran Dana Tunggu Hunian (DTH), bantuan hidup (jadup), stimulus ekonomi, serta bantuan perabot rumah tangga. Mereka juga meminta pemerintah kembali menyediakan hunian sementara (huntara) apabila pembangunan hunian tetap belum dapat direalisasikan dalam waktu dekat, agar warga yang kehilangan rumah tidak terus hidup dalam ketidakpastian.
“Kami tidak meminta lebih. Kami hanya ingin memiliki tempat tinggal yang layak dan kesempatan untuk memulai kembali kehidupan setelah kehilangan hampir segalanya akibat banjir,” harap warga.
(Tim)