Biaya Acara Tembus Rp 390 Juta, Puluhan Mahasiswa Unilak Diduga Keracunan Makanan di Hotel Grand Elite

Rabu, 14 Januari 2026 | 09:11:57 WIB
Biaya Acara Tembus Rp 390 Juta, Puluhan Mahasiswa Unilak Diduga Keracunan Makanan di Hotel Grand Elitei Foto:

PEKANBARU — Kegiatan Peningkatan Mutu Akademik (PMA) Universitas Lancang Kuning (Unilak) yang digelar di Hotel Grand Elite Pekanbaru berujung insiden serius. Sebanyak 88 mahasiswa dilaporkan mengalami diare, sakit perut, dan muntah-muntah massal usai menyantap makanan yang disediakan pihak hotel pada Jumat (9/1/2026).

Peristiwa tersebut terjadi pada hari terakhir kegiatan PMA yang berlangsung selama tiga hari, sejak 7 hingga 9 Januari 2026, dan diikuti 184 mahasiswa penerima beasiswa berprestasi angkatan 2023 dari Pemerintah Provinsi Riau.

Berdasarkan data yang dihimpun, gejala gangguan pencernaan muncul hampir bersamaan setelah peserta menyantap makan siang. Hingga Sabtu (10/1/2026), tercatat 88 mahasiswa terdampak, dengan rincian 41 orang mengalami sakit perut, 28 diare, dan 19 muntah-muntah. Sejumlah mahasiswa bahkan mengaku harus bolak-balik ke toilet hingga belasan kali.

Kepala Biro Akademik Unilak, Ade Irwanda, membenarkan adanya laporan gangguan kesehatan massal tersebut. Meski demikian, pihak kampus menyatakan belum dapat memastikan penyebab pastinya.

“Kami belum bisa menyimpulkan ini keracunan makanan karena perlu penjelasan medis. Namun keluhan mual, muntah, dan diare memang muncul setelah makan siang,” ujar Ade, Selasa (13/1/2026).

Dana Beasiswa Rp 1,65 Miliar, Rp 390 Juta untuk Hotel

Selain soal dugaan keracunan makanan, kegiatan PMA ini juga menuai sorotan terkait besarnya anggaran. Berdasarkan penelusuran, Pemprov Riau melalui Biro Kesejahteraan Rakyat (Kesra) mengalokasikan dana beasiswa sebesar Rp 1.655.998.400 untuk 184 mahasiswa Unilak.

Dari jumlah tersebut, Rp 390.098.400 dialokasikan khusus untuk pelaksanaan PMA di Hotel Grand Elite. Artinya, setiap mahasiswa dikenakan biaya sekitar Rp 2.120.100 per orang. Padahal, selama kegiatan berlangsung, mahasiswa tidak menginap di hotel dan hanya menerima uang transportasi Rp 100 ribu per hari.

Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni Unilak, Dr. Hardi, menyebut PMA merupakan program rutin sejak 2018 dan bertujuan meningkatkan soft skill mahasiswa penerima beasiswa.

“Untuk peningkatan mutu akademik, mahasiswa dilatih soft skill-nya,” kata Hardi.

Ia berdalih pemilihan hotel dilakukan demi transparansi dan akuntabilitas anggaran. Menurutnya, pelaksanaan di kampus justru dikhawatirkan menimbulkan kecurigaan.

“Kalau di hotel kan jelas ada harganya. Kami khawatir nanti dituding memainkan harga seperti pengalaman sebelumnya,” ujarnya.

Insiden gangguan kesehatan massal ini turut menyeret perhatian pada manajemen Hotel Grand Elite Pekanbaru. Informasi yang diperoleh menyebutkan, hotel tersebut tengah menghadapi masalah tata kelola internal sejak wafatnya pemilik hotel, Dedi Handoko (DH), beberapa bulan lalu.

Pasca kepergian DH, manajemen hotel disebut kehilangan figur pemimpin utama, sehingga berdampak pada pengawasan operasional, termasuk standar pengolahan dan penyajian makanan. Bahkan, sumber internal menyebut terjadi tarik-menarik kepentingan dan perebutan dominasi di internal manajemen.

Kondisi ini dinilai berpotensi memengaruhi kualitas layanan hotel terhadap tamu dan kegiatan berskala besar.

Respons Manajemen Hotel

Manajemen Hotel Grand Elite mengonfirmasi telah menerima laporan keluhan kesehatan dari peserta PMA Unilak.

“Manajemen telah melakukan koordinasi dan pertemuan langsung dengan pihak Universitas Lancang Kuning untuk menyampaikan klarifikasi serta langkah-langkah penanganan,” ujar Henni, perwakilan manajemen Hotel Grand Elite.

Namun hingga kini, belum ada penjelasan terbuka terkait hasil evaluasi dapur, makanan, maupun uji sampel atas dugaan keracunan yang dialami mahasiswa. (*)

Tulis Komentar