MENU TUTUP

Elviriadi Sarankan Menteri LHK Goreng Isu Sosial Budaya Dalam Pembangunan Berkelanjutan

Jumat, 13 April 2018 | 23:45:15 WIB
Elviriadi Sarankan Menteri LHK Goreng Isu Sosial Budaya Dalam Pembangunan Berkelanjutan

GENTAONLINE.COM-Menurut Pakar Lingkungan DR Elviriadi MSi, maraknya kasus kerusakan lingkungan dewasa ini disebabkan tidak terlaksananya konsep pembangunan berkelanjutan.

Katanya, pembangunan berkelanjutan itu terdiri dari tiga aspek  ekonomi, ekologi dan sosial budaya. Ketiganya harus selaras dan eksis. "Tapi faktanya yang perihal sosial budaya tak pernah diperhatikan sama sekali," kata Elviriadi.

Saat ini, kata dia, menangkis isu deforestasi dengan perhutanan sosial, Hutan Tanaman Rakyat HTR dan Hutan Desa udah tak efektif lagi. Masih negara centris, dan agak sensitif jelang 2019.
"Jadi yang paling renyah itu, Menteri Siti Nurbaya menggoreng topik Sosial Budaya, yang nyaris tak terdengar dalam riuh wacana pembangunan berkelanjutan sejak dulu sampai jaman now," ujarnya.

Kata Elviriadi, ada setidaknya 3 alasan mendesak topik sosial budaya ini didorong Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan dan 'komandan' nya.

Pertama, semua kesepakatan internasional (United Nations Conference on the Environment di Stockholm 1972,  Population Conference 1974, United Nations Conference on Environment and Development (UNCED) di Rio de Jenairo sampai Paris Agenda kesemuanya bicara keunggulan sosial budaya komunitas sebagai basis pembangunan.

Kedua, fakta bahwa masyarakat pribumi lah yang ribuan tahun berjaya mengelola lingkungan, memperkuat ketahanan pangan, mengkonservasi air bersih. Kemampuan itu terbangun dari modal sosial budaya pribumi dalam menata lingkungan alam. Ini yang tereduksi oleh Undang Undang Kehutanan dan Lingkungan Hidup Indonesia, seolah mereka blenk.

Ketiga, dalam analisa mengenai dampak lingkungan (AMDAL) bab sosial budaya tak dihiraukan. Maka demo lah orang Sakai ke kantor Gubernur Riau. Konflik agraria tak terurai, dan yang approval itu hanya pemerintah dan swasta monokultur. Padahal, kapasitas budaya (kearifan lokal) itulah coor competence bangsa Indonesia, jati diri dan alat survive kita dalam pertarungan sumberdaya alam global.

"Celakanya ketika alam rusak, gambut mengering dan mudah terbakar, justru orang arif di kampung itu pula yang dieksekusi," tutup elviriadi. (rls)

Berita Terkait +
TULIS KOMENTAR +
TERPOPULER +
1

Dishub Kampar Tegaskan Pungutan Parkir di Disdukcapil dan UPT Samsat Tidak Resmi, Minta Dihentikan

2

Kadis PUTR Rohil Dilaporkan ke Kejati dan Polda Riau Terkait Dua Proyek Jalan Rp34,6 Miliar

3

KOPARI Desak Polda Riau Usut Dugaan Jual Beli Lahan di Kawasan Hutan

4

Diduga Pabrik PT LAS "Minyak Kita" Berdiri Tanpa Plang, Muncul Dugaan Kebocoran Pajak dan Pencemaran Limbah

5

Pimred Media Mengecam Pengacara Arogan Pelanggaran kode Etik Penghinaan Martabat Profesi Wartawan

6

Hina Profesi Wartawan, Hotman Paris di Kejar Organisasi Wartawan, PWI dan PWMOI Bersuara

7

Diduga Diteror dalam Sengketa Tanah, Warga Tangkerang Barat Pertanyakan Pendampingan RW 08 dan Minta Polisi Menyelidiki Dugaan Mafia Tanah

8

Sebarkan Fitnah Keji terhadap Ketua KNPI Riau yang Dikriminalisasi Polresta Pekanbaru, Ini Sanggahan Istri Larshen Yunus*

9

Pemerintah Kecamatan Tambang Mengaku Belum Tahu Aktivitas Galian C Ilegal, Ulul Azmi Jadi Sorotan