MENU TUTUP

Wah, SPBU Jalan Koridor RAPP Nakal, Jual BBM Subsidi ke Mobil Terlarang

Ahad, 21 Maret 2021 | 22:37:18 WIB
Wah, SPBU Jalan Koridor RAPP Nakal, Jual BBM Subsidi ke Mobil Terlarang Antrian mobil-mobil tronton pengangkut kayu beroda 8 saat mengisi BBM bersubsidi jenis Biosolar (B30) di SPBU KM 5 Jl. Koridor RAPP, Pangkalan Kerinci, Pelalawan, Rabu malam (17/3).

 

GENTAONLINE.COM-Biosolar (B30) merupakan salah satu jenis kelompok BBM bersubsidi. Dalam pendistribusiannya, tentu menyasar kepada masyarakat kelas ekonomi menengah kebawah. Hal itu sejalan dengan PP No. 191 tahun 2014 tentang Penyediaan, Pendistribusian dan Harga Jual Eceran BBM.

Diduga aturan tersebut dikangkangi oleh salah satu SPBU yang terletak di KM 5 Jl. Koridor RAPP, Pangkalan Kerinci, Pelalawan. Saat tengah melakukan pengisian BBM di SPBU bernomor 14.283.692 itu, Rabu malam, 17 Maret 2021 sekira pukul 22.50 WIB, wartawan gentaonline.com menyaksikan beberapa mobil 'Terlarang' jenis tronton pengangkut kayu dengan jumlah roda 8 diduga milik perusahaan yang sedang antri mengisi biosolar (B30).

Sebagaimana termaktub dalam PP No. 191 tahun 2014, salah satu poinnya menyebutkan "Konsumen yang berhak menggunakan biosolar (B30) bersubsidi ialah kendaraan bermotor umum, kecuali mobil pengangkut hasil perkebunan dan pertambangan dengan roda lebih dari 6". Artinya, kendaraan bermotor jenis apapun dengan jumlah roda lebih dari 6 tidak dibenarkan melakukan pengisian BBM bersubsidi, terlebih mobil angkutan hasil hutan, perkebunan dan pertambangan.

Wartawan coba memastikan kepada petugas pengisi BBM di SPBU tersebut apakah Biosolar itu masuk dalam kategori BBM subsidi, "Ya, kenapa bg?" singkatnya balik bertanya, Rabu (17/3).

Di tempat yang sama, wartawan coba memastikan apakah mobil-mobil angkutan kayu itu berasal dari PT. RAPP, namun tidak ada jawaban.

Humas SPBU 14.283.692 Apul Sihombing, SH.,MH ketika dikonfirmasi wartawan mengatakan kendaraan umum kecuali pengangkut hasil perkebunan dan pertambangan yang rodanya lebih dari 6, "Artinya, hasil perkebunan dan pertambangan pun boleh memakai solar subsidi kecuali roda 6 keatas" ujarnya, Jum'at (19/3).

Terakhir, ia mengatakan bahwa di PP (191/2014-red) itu tidak tegas larangannya dan sanksinya apa. Larangan itu kepada Industri, bukan SPBU.

"Kalau kami di SPBU inikan gak perlu kami tanya pengangkut apa, pengangkut apa, gak mungkin semuanya kami tanya" pungkas Apul. (Redaksi)

Berita Terkait +
TULIS KOMENTAR +
TERPOPULER +
1

FAJI Riau Ingatkan Iskandar Hoesin Jangan Halalkan Segala Cara

2

Aktivitas Galian C di Sungai Jalau Diprotes, 250 Warga Kampar Utara Desak Penutupan

3

Penetapan Pimpinan PT SPRH Dinilai Cacat Prosedur, HMI Badko Riau-Kepri Wanti-wanti BUMD Jadi 'ATM'

4

Pajak Sawit Rp1.700 per Batang Berpotensi Rp2 Triliun, KOPARI Usul Tarif Digandakan Jadi Rp4 Triliun

5

Silaturahmi dan Konsolidasi Pimpinan Fakultas dan Ikatan Alumni Fakultas Ekonomi dan Ilmu Sosial UIN Sultan Syarif Kasim Riau

6

Aktivis Desak KPK Usut Dugaan Fee 5 Persen Tunda Bayar di Pemko Pekanbaru

7

Jeritan Guru PPPK Rohil Menggema di Jakarta 'Menitipkan Nasib' ke BKN dan KemenPAN-RB

8

Mahasiswa Desak Tangkap Plt Gubernur Riau SF Hariyanto, Disebut Biang Kerok Korupsi Riau

9

Proyek Jalan APBD Rp148,8 Juta di Bengkalis Molor, Indikasi Kelalaian hingga Dugaan Korupsi Mencuat