Jacob Ereste: Kisah Mahabharata Dalam Perang Bharatayuda Yang Terpaut Dengan Cerita Dari Negeri Konoha

Ahad, 05 Juli 2026 | 23:00:00 WIB
Jacob Ereste: Kisah Mahabharata Dalam Perang Bharatayuda Yang  Terpaut Dengan Cerita Dari Negeri Konohai Foto:

GentaOnline.Com - Nasional. Mungkinkah hidup yang dipenuhi oleh cacian dan makian hingga hujatan hanya dimiliki oleh manusia dengan tipe tertentu yang tak dimiliki oleh orang lain. Sehingga terkesan tampak begitu nyaman dan tenteram menghadapi semua seperti penuh kesabaran tanpa rasa risi dan malu, kendati hujatan dan makian yang terus dilontarkan setiap hari itu tampak seperti angin lalu yang tidak pernah dirasa mengganggu, sehingga membuat takjub dan rasa heran masyarakat umum.

Agaknya, dalam kondisi hina dina seperti itukah rasa percaya diri perlu dilipatgandakan sambil memuji dan mengagumi berbagai  kelebihan diri sendiri,  kendati semua orang telah menjatuhkan vonis semacam kepribadian yang paling buruk diantara yang terburuk. Sebab untuk menaruh pada hujatan dan makian yang terus datang bertubi-tubi dari segenap penjuru angin, memang diperlukan tembok pengamanan muka dari serangan yang terus menerus diluncurkan dari semua arah, hingga tak lagi perlu ditangkis, seperti hujan panah dalam perang Bharatayuda antara Pandawa lawan Kurawa yang tak sempat dibaca sampai tamat. Jadi agak sulit untuk mendalami makna filsafat dari sanepo yang digambarkan dari perseteruan yang melegenda sampai hari ini. Padahal perang bernarasi menegangkan ini adalah perang antara Dharma melawan Adharma, yaitu kebenaran melawan keserakahan seperti tergambar dalam isi mustan media sosial di Indonesia yang sungguh marak dan selalu viral itu hingga jadi memuakkan.

Inti masalah adalah hasrat untuk menguasai tahta kerajaan -- meski secara formal sudah lengser keprabon -- seperti yang terjadi di negeri Konoha. Yaitu negeri yang penuh simbolika di balik daun dari mitologi bangsa Jepang yang sangat populer karena berhasil diangkat ke layar perak. Jadi warga bangsa Indonesia boleh mengiri sebab kisah Sengkuni dari dunia pewayangan tidak mampu diusung ke layar perak agar bisa menjadi referensi pembelajaran bahwa politik adu domba itu dipelajari bangsa penjajah di Nusantara dari kisah Mahabarata hingga kacau dipahami pengertiannya dengan Bharatayuda,  yang berkisah tentang leluhur bangsa Bharata yaitu  Astina.

Budaya buzzer pada jaman Kerajaan Astina dahulu itu seperti yang diperankan oleh Sengkuni -- pemantik kerusuhan akibat dendam sosial -- meski sekarang telah berubah menjadi dendam ekonomi -- akibat dirundung kemiskinan yang akut. Jadi motivasinya cuma sekedar materi, ulah atau semacam insentif meskipun dengan nilai yang sangat murah, namun harus dibarter dengan harga diri. Padahal nilai besar yang diperebutkan par elite politik adalah Tahta Kerajaan Astina dengan saling mengklaim legitimasi tentang hak untuk tetap atau kembali  menjadi raja seperti kisah di negeri Konoha dalam bagian lain yang belum dipublikasikan  untuk masyarakat umum khususnya maniak penonton film di Indonesia yang justru tidak suka dengan produk film bangsanya sendiri.

Yang unik, ada semacam sublimasi sifat dan sikap Sengkuni dahulu yang kini hidup kembali dengan ekspresi dendam politik dan dendam ekonomi dengan cara mendorong semua cecunguk dan begundalnya melakukan korupsi untuk kemudian dia palak sekalian dijadikan Sandra untuk dapat mengendalikan para begundal dan cecunguk agar tetap menghamba pada dirinya, meski sekarang tak lagi mengenakan mahkota resmi milik kerajaan. Maka itu betapa malangnya hidup mereka yang masih haus kekuasaan hingga harga diri -- bahkan reputasi yang telah diraih dengan jerih payah yang susah, harus lenyap dalam sekejap karena harus menjalani putusan hakim untuk mendekam sekian lama di dalam penjara.

Sungguh tragis memang ambisi yang melampaui akal sehat dan bertekuk lutut bersama etika dan moral yang runtuh seketika, tanpa pernah bisa untuk dimaafkan okeh diri sendiri, sehingga sesal yang tersisa terus dibawa mati dan menjadi warisan terburuk bagi anak dan cucu yang terpaksa memukul sejarah yang penuh dosa. Karena caci maki dan hujatan sudah sudah kehabisan cerita dan narasinya.


Serpong, 5 Juli 2026

Tulis Komentar