Edi Lelek: Menjaga Suara Publik di Tengah Intimidasi dan Ancaman Kriminalisasi

Sabtu, 12 September 2026 | 18:08:05 WIB
Edi Lelek: Menjaga Suara Publik di Tengah Intimidasi dan Ancaman Kriminalisasii Foto: Edi Lelek, Dedikasi Jurnalis dari Kedai Kopi hingga Gubuk Kayu di Rimbo Panjang

PEKANBARU — Secangkir kopi menemani perbincangan dengan Edi Lelek di Kedai Kopi Ngetime, Panam, Sabtu (12/9/2026). Pimpinan Redaksi GentaOnline itu berbicara tentang sisi lain kehidupan wartawan: tekanan, intimidasi, ancaman kriminalisasi, hingga persoalan sederhana tentang bagaimana bertahan hidup tanpa meninggalkan profesi yang telah menjadi jalan hidupnya.

Bagi Lelek, menjadi wartawan bukan sekadar mengejar peristiwa lalu menuliskannya menjadi berita. Ada tanggung jawab untuk menjaga suara publik, terutama ketika masyarakat merasa tidak mempunyai ruang untuk menyampaikan persoalannya. “Jadi wartawan jangan takut diintimidasi. Hidup dan mati sudah ada yang mengatur,” kata Lelek.

Ucapan itu bukan tanpa pengalaman. Lelek mengatakan perjalanan jurnalistiknya beberapa kali membawanya berhadapan dengan situasi sulit. Pemberitaan yang menyentuh kepentingan tertentu, menurut dia, terkadang memunculkan tekanan dari orang-orang yang merasa terganggu. Ada pula situasi ketika wartawan harus menghadapi pihak yang disebutnya menjadi “beking” suatu kepentingan.

Ia mengaku pernah mengalami intimidasi. Lelek juga pernah merasakan kehidupan di balik jeruji. Pengalaman tersebut menjadi salah satu bagian paling keras dalam perjalanan hidupnya. Ia tidak ingin menjadikannya sebagai cerita kepahlawanan, melainkan pengingat bahwa pekerjaan jurnalistik dapat membawa konsekuensi ketika seorang wartawan memilih terus menyuarakan persoalan yang dianggap penting bagi masyarakat.

“Banyak hal di lapangan. Kadang kita bisa diancam maupun dikriminalisasi oleh para oknum,” ujarnya. Karena itu, Lelek mengatakan keberanian tidak boleh berdiri sendirian. Seorang wartawan harus memiliki fakta, melakukan verifikasi, meminta konfirmasi dan memberikan hak jawab kepada pihak yang diberitakan.

Menurut dia, disiplin jurnalistik justru menjadi perlindungan penting ketika wartawan berhadapan dengan tekanan. Kritik boleh keras, tetapi fakta tidak boleh dikalahkan oleh prasangka. Wartawan juga tidak boleh menggunakan media untuk kepentingan pribadi. Di situlah, menurut Lelek, keberanian dan tanggung jawab menemukan batasnya.

Namun ancaman terhadap independensi wartawan, kata dia, tidak selalu datang dalam bentuk intimidasi. Persoalan ekonomi juga dapat menjadi ujian. Kehidupan seorang wartawan tidak selamanya berkecukupan. Dalam kondisi semacam itulah Lelek berpesan agar keterbatasan tidak membuat wartawan mudah menyerah ataupun menggadaikan prinsip.

“Jalanilah profesi wartawan dengan penuh dedikasi. Jangan suka mengeluh. Rezeki sudah ada yang mengatur,” katanya. Lelek mengingatkan rekan-rekan pers agar tetap bekerja dengan baik dan menjaga kepercayaan masyarakat meski keadaan yang dihadapi tidak selalu mudah.

Prinsip itu ia rangkum dalam kalimat lain yang kerap disampaikannya. “Jangan takut lapar dan haus. Media harus hadir membantu masyarakat menyuarakan kebenaran.” Bagi Lelek, keberadaan pers baru memiliki arti ketika pemberitaan dapat membuka ruang bagi kepentingan masyarakat, bukan semata menjadi alat bagi mereka yang memiliki kekuasaan atau uang.

Kehidupan Lelek sendiri jauh dari gambaran kemewahan seorang pimpinan media. Di luar aktivitas jurnalistik, ia merupakan penggemar burung berkicau. Kegemaran tersebut kemudian menjadi usaha kecil-kecilan yang ikut menopang kehidupannya. Ia memelihara dan merawat burung, lalu sesekali melepasnya untuk diadopsi penghobi lain.

Tak jarang burung peliharaannya diadopsi dengan mahar yang cukup lumayan. Uang itulah yang, menurut Lelek, terkadang membantu memenuhi kebutuhan makan, minum hingga biaya menikmati kopi sehari-hari. Hobi tersebut menjadi salah satu cara baginya menjaga roda kehidupan tetap berjalan sembari terus mengurus media dan melakukan pekerjaan jurnalistik.

Hingga sekarang, Lelek mengatakan masih tinggal sederhana di sebuah rumah kayu di kawasan Rimbo Panjang, Riau. Di tempat itu pula ia hidup bersama burung-burung peliharaannya. Tidak banyak kemewahan yang ia ceritakan. Kehidupannya bergerak dari pekerjaan media, aktivitas lapangan, secangkir kopi dan kegemarannya merawat burung.

Kesederhanaan tersebut membuat Lelek berulang kali mengingatkan bahwa ukuran keberhasilan wartawan tidak semestinya hanya dilihat dari materi. Ia mengatakan ada kepuasan ketika sebuah berita dapat membantu masyarakat mendapatkan perhatian, mendorong sebuah persoalan diperiksa atau sekadar membuat suara orang kecil terdengar oleh mereka yang memiliki kewenangan.

Sebagai Pimpinan Redaksi GentaOnline, Lelek ingin semangat tersebut tetap menjadi bagian dari media yang dipimpinnya. Pers, menurut dia, harus berani, tetapi tidak boleh kehilangan akurasi. Harus kritis, tetapi tetap berimbang. Dan ketika menghadapi intimidasi maupun ancaman kriminalisasi, wartawan harus menjadikan fakta, etika dan kepentingan publik sebagai pijakan.

Perbincangan di kedai kopi itu akhirnya kembali kepada tiga hal yang terus disebut Lelek: dedikasi, keberanian dan kesederhanaan. Pengalaman intimidasi, kehidupan di balik jeruji hingga bertahan dari usaha kecil memelihara burung menjadi bagian dari perjalanan tersebut. “Rezeki sudah ada yang mengatur,” katanya. Bagi Lelek, selama pers masih dipercaya masyarakat, pekerjaan wartawan tetap sama: menjaga suara publik dan menyuarakan kebenaran tanpa kehilangan keberanian. (*)

Tulis Komentar